Saturday, August 15, 2026

Popular News

HomeNewsAsiaMbah Moen Dikenang Karena Komitmennya Pada Toleransi Beragama

Mbah Moen Dikenang Karena Komitmennya Pada Toleransi Beragama


Mbah KH Makmoen Zuber didoakan di Gereja Katolik St Yosef Mojokerto. (Foto oleh Ahmad Suedy/Wahid Institute)

Larger | Smaller

KH Maimun Zubair, seorang tokoh Muslim yang meninggal pada 6 Agustus dikenang karena komitmennya pada toleransi beragama. Mustasyar Pengurus Besar Nahdatul Ulama yang juga pendiri Partai Persatuan Pembangunan itu meninggal di saat menunaikan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi dan telah dimakamkan pada 7 Agustus.

Kepergian kyai yang dikenal sebagai Mbah Moen di usia yang ke-90 tahun tidak hanya sebagai kehilangan bagi umat Muslim, tetapi juga bagi umat beragama lain, termasuk Katolik.

Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia menyebutnya  “telah meninggalkan warisan yang sangat berharga kepada bangsa, negara dan masyarakat.”

“Salah satu warisan yang pasti akan dikenang adalah nasihat agar kita selalu berusaha berbuat baik,” katanya.

Di Gereja Santo Yosef di Mojokerto, Jawa Timur, para tokoh lintas agama bahkan menggelar doa khusus.

Doa bersama ini, menurut Romo Tomi Cornelius dari Gereja Katolik Santo Yosep Tomi Cornelius, menjadi wujud penghormatan terakhir para pemuda lintas agama kepada Mbah Moen yang merupakan sosok kiai yang menjadi teladan bagi semua kalangan.

“Semasa hidup dalam setiap pesan yang disampaikan beliau, kami bisa mengambil inti bahwa bangsa ini harus kita jaga bersama, dalam hal kerukunan dan persaudaraan. Kami semua merasa kehilangan,” terangnya.

Sementara itu, Pendeta Gomar Gultom, Sekertaris Persatuan Gereja-gereja di Indonesia menyatakan, Mbah Moen adalah sosok kiai yang patut menjadi teladan bagi ulama dan tokoh agama yang ada di Indonesia. 

“Dari ragam hiruk piruk kontestasi politik dan agama, beliau selalu hadir dengan keteduhan. Olehnya, kepergian beliau tidak hanya kehilangan bagi PPP maupun NU, tidak juga hanya kehilangan bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Presiden Jokowi menyebutnya sebagai “kiai yang selalu menjadi rujukan-rujukan bagi umat islam, terutama dalam hal fikih, dan beliau juga sangat gigih dalam menyampaikan masalah NKRI harga mati.

“Saya atas nama pemerintah, seluruh rakyat Indonesia kita semua betul betul berbela sungkawa, atas wafatnya beliau,” ujarnya.

Popular News

Myanmar Jesuit sees Buddhist Waso as bridge for interreligious peace

The Buddhist season of Waso can offer Christians and Buddhists in conflict-torn Myanmar a...

Philippines: Diocese of Calapan begins a new chapter

The Diocese of Calapan has been formally established and Bishop Moises Cuevas installed as...

Indonesia: One Dollar, 219 Churches

How an Indonesian lay movement discovered that rebuilding the Church begins with rebuilding hearts By...

Confucian-Christian Colloquium Final Statement: Building a harmonious world

In a Final Statement, participants in the First Confucian-Christian Colloquium, held in Seoul, South...